Day: December 2, 2025

  • Kenapa Kerusakan Alam Parah di Darat & Laut? Jawabannya Ada di Surat Ar-Rum 41

    Kenapa Kerusakan Alam Parah di Darat & Laut? Jawabannya Ada di Surat Ar-Rum 41

    Ketika bencana alam melanda, kita sering kali otomatis menyalahkan “takdir” atau “kehendak Tuhan” semata, tanpa pernah mau melihat ke dalam diri. Pemahaman ini, meskipun mengandung unsur keimanan, seringkali menjadi blind spot yang membuat kita lari dari tanggung jawab.

    Al-Qur’an, melalui satu ayat tegas, secara dramatis mengubah perspektif ini. Ayat tersebut menunjuk langsung pada pelaku utama di balik kerusakan yang terjadi di bumi, baik di darat maupun di laut:

    Ayat Kunci: Surah Ar-Rum Ayat 41

    Allah SWT berfirman:

    $$ظَهَرَ ٱلْفَسَادُ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِى ٱلنَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ$$

    “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah mer1asakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41)

    Ayat ini adalah kunci tafsir bagi setiap bencana yang terjadi. Ia menegaskan tiga poin fundamental:

    1. Manusia Adalah Dalang (Bima Kasabat Aydīn Nās)

    Ayat ini menolak pandangan bahwa kerusakan alam adalah takdir buta yang berdiri sendiri. Allah SWT secara eksplisit menyatakan bahwa kerusakan (al-fasād) itu “disebabkan karena perbuatan tangan manusia” (bimā kasabat aydīn nās).

    Dalam konteks tafsir, “perbuatan tangan manusia” mencakup:

    • Kezaliman Sosial: Kedzaliman, korupsi, dan pelanggaran hukum Allah (seperti disebutkan Ibnu Katsir).
    • Eksploitasi Lingkungan: Kerusakan hutan (penebangan liar), polusi air dan udara, pembuangan limbah, dan eksploitasi sumber daya secara serakah.

    Jadi, meskipun Allah mengizinkan bencana terjadi (takdir), pemicu dan akar masalahnya adalah pilihan dan tindakan fasād yang dilakukan manusia.

    2. Bencana Bukan Azab, Tapi Peringatan

    Tujuan Allah memperlihatkan kerusakan ini juga dijelaskan dengan gamblang: “Liyuzīqahum ba’dha alladzī ‘amilū” (supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari akibat perbuatan mereka).

    Kerusakan yang kita alami (banjir, longsor, polusi) bukanlah siksaan akhirat (azab) yang total, melainkan sampel atau “rasa” dari konsekuensi perbuatan buruk kita di dunia. Ibarat sebuah alarm yang berbunyi keras.

    3, Plot Twist: Tujuannya Agar Kita Kembali (La’allahum Yarji’ūn)

    Ayat ini menutup dengan tujuan paling penting: “agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

    Bencana alam adalah mekanisme Ilahi agar manusia:

    • Sadar: Bahwa bumi itu rapuh dan memiliki batas.
    • Bertanggung Jawab: Menghentikan fasād (perusakan) dan mulai menjalankan peran sebagai khalifah (pemimpin yang menjaga) di bumi.
    • Bertaubat: Kembali kepada ketaatan, keadilan, dan keseimbangan (ekologi dan moral).

    Tanggung Jawab Sejati Seorang Muslim

    Surah Ar-Rum 41 menuntut kita untuk berhenti mencari kambing hitam dan mulai mengakui kesalahan kita dalam mengelola bumi. Sebagai khalifah, tugas kita adalah menjaga amanah Allah.

    Setiap kali kita melihat kerusakan atau bencana, kita diingatkan bahwa solusi utamanya bukan hanya pada teknologi mitigasi bencana, melainkan pada perbaikan kolektif atas perilaku dan moral kita agar sejalan dengan kehendak Allah.