Hakikat puasa adalah menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan yang sia-sia agar pahala yang kita raup menjadi sempurna.
Dalam hal ini, kita bisa mengambil pelajaran berharga dari salah satu sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadits, yaitu Abu Hurairah ra. Beliau memiliki cara yang unik dan mendalam untuk memastikan puasanya tetap terjaga kualitasnya.
Berdiam di Masjid untuk Menjaga Lisan
Abu Hurairah ra. dan para sahabat lainnya dikenal sangat berhati-hati dalam menjalankan ibadah puasa. Ketika sedang berpuasa, beliau sering kali menghabiskan waktunya berdiam diri di dalam masjid.
Bukan karena malas bekerja, melainkan beliau tetap bekerja dan juga merupakan bentuk strategi spiritual Beliau. Beliau pernah berkata:
“Mari kita bersihkan puasa kita.” Pernyataan ini merujuk pada upaya beliau untuk menghindari hal-hal yang dapat merusak pahala puasa, seperti bergosip (ghibah), berkata kasar, atau terlibat dalam perdebatan yang tidak perlu. Dengan berada di masjid, beliau membatasi interaksi yang tidak bermanfaat dan memilih menyibukkan diri dengan mendekatkan diri kepada Allah.
Menyibukkan Diri dengan Zikir dan Ilmu
Di sudut masjid, Abu Hurairah ra. tidak sekadar duduk diam. Beliau mengisi waktu-waktunya dengan dua aktivitas utama:
- Zikir: Lisan beliau tidak berhenti memuji Allah, sehingga tidak ada celah bagi lisan tersebut untuk mengucapkan hal yang buruk.
- Muroja’ah Ilmu: Beliau mengulang-ulang hafalan hadits yang telah beliau dapatkan dari Rasulullah ﷺ. Inilah mengapa bulan Ramadhan bagi beliau adalah bulan peningkatan kapasitas intelektual dan spiritual sekaligus.
Sumber Valid: Kisah mengenai kebiasaan Abu Hurairah ra. dan para sahabatnya yang berdiam diri di masjid saat puasa ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitab Az-Zuhd (hal. 175) dan juga disebutkan oleh Imam Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf.
Mengapa Kita Harus Meniru Abu Hurairah ra.?
Kisah ini memberikan edukasi penting bagi kita bahwa puasa memiliki “level” yang berbeda. Rasulullah ﷺ pernah memperingatkan:
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR. Ahmad)
Sahabat Abu Hurairah ra. mengajarkan bahwa untuk menghindari kerugian tersebut, kita perlu:
- Menjaga Pintu Masuk Dosa: Mengontrol mata, telinga, dan lisan.
- Mencari Lingkungan yang Baik: Jika di rumah atau di kantor kita merasa sulit menahan diri dari ghibah, carilah tempat atau komunitas yang mengajak pada kebaikan.
- Produktif dalam Ketaatan: Mengganti kebiasaan scrolling media sosial yang tidak perlu dengan membaca buku edukasi atau mendengarkan kajian ilmu.
Puasa yang Berkualitas
Meneladani Abu Hurairah ra. berarti kita berusaha menjadikan Ramadhan 2026 nanti sebagai momentum “Detoksifikasi Lisan”. Mari kita isi waktu luang saat puasa dengan hal-hal yang mencerdaskan dan menenangkan hati.
#KawanAksi, mari kita sempurnakan puasa dengan membantu saudara-saudara kita mendapatkan ilmu dan gizi yang layak: Klik Disini Wujud Aksi Nyata – Sedekah Ilmu & Pangan
