Setiap menjelang akhir Ramadan, kita disibukkan dengan urusan zakat fitrah. Di Indonesia, kita terbiasa membayar dengan beras atau uang. Namun, pernahkah #KawanAksi bertanya-tanya, apa sebenarnya yang dikeluarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat sebagai zakat fitrah pada masa itu?
Memahami jenis zakat fitrah di zaman Nabi membantu kita menghayati bahwa ibadah ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya pemenuhan kebutuhan pangan pokok masyarakat pada masanya.
1. Jenis Zakat Fitrah Rasulullah SAW
Berdasarkan hadits yang sangat populer dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, beliau menceritakan praktik zakat di zaman Nabi:
“Dahulu kami mengeluarkan zakat fitrah pada masa Rasulullah SAW sebanyak satu sha’ makanan. Dan makanan kami saat itu adalah gandum (syair), kismis (zabib), kurma (tamer), dan keju (aqith).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pada masa itu, komoditas tersebut merupakan makanan pokok masyarakat Madinah. Tidak ada beras seperti di Indonesia saat ini, karena syariat zakat fitrah merujuk pada makanan pokok di daerah masing-masing.
2. Ukuran Satu Sha’
Ukuran yang digunakan Nabi adalah Satu Sha’. Jika dikonversi ke satuan modern, para ulama memiliki sedikit perbedaan hitungan, namun secara umum di Indonesia (mengikuti Mazhab Syafi’i) dikonversi menjadi sekitar 2,5 kg atau 3,5 liter. Angka ini adalah takaran minimal untuk memastikan satu jiwa memiliki cukup pangan di hari raya.
3. Hikmah di Balik Pilihan Bahan Pangan
Mengapa Nabi menyebutkan berbagai jenis bahan pangan? Hal ini menunjukkan fleksibilitas Islam.
- Kurma dan Kismis: Sumber energi cepat dan tahan lama.
- Gandum: Bahan dasar roti sebagai karbohidrat utama.
- Keju: Sumber protein hewani.
Tujuannya satu: Mencukupkan kebutuhan pangan dhuafa. Nabi ingin agar di hari Idul Fitri, tidak ada satu pun orang miskin yang merasa kelaparan atau harus meminta-minta makanan.
4. Perubahan ke Beras atau Uang
Mengapa kita sekarang menggunakan beras atau uang? Para ulama menjelaskan bahwa zakat fitrah harus berupa makanan pokok yang berlaku di sebuah negeri. Di Indonesia, beras adalah makanan utama. Sementara penggunaan uang (menurut Mazhab Hanafi) diperbolehkan karena dianggap lebih fleksibel bagi penerima zakat untuk membeli kebutuhan mendesak lainnya.
Sempurnakan Puasa dengan Zakat Tepat Waktu
Mempelajari zakat fitrah Nabi mengajarkan kita tentang pentingnya kualitas makanan yang diberikan. Jika Nabi memberikan kurma dan gandum terbaik, maka kita pun hendaknya memberikan beras dengan kualitas yang biasa kita konsumsi sehari-hari.
Mari #KawanAksi, tunaikan kewajiban zakat fitrah Kamu dengan penuh keikhlasan. Pastikan kebahagiaan Idul Fitri sampai ke pelosok nusantara melalui penyaluran yang amanah.
Tunaikan zakat fitrah #kawanaksi melalui Wujud Aksi Nyata di sini: 👉 Zakat Fitrah Amanah – Wujud Aksi Nyata
Menghidupkan Sunnah Melalui Kepedulian
Zakat fitrah Nabi adalah simbol cinta kepada umatnya. Dengan menunaikannya, kita tidak menggugurkan kewajiban, dan bisa menghidupkan semangat berbagi yang telah dicontohkan sejak 14 abad yang lalu.
