Day: November 24, 2025

  • Berhenti Sok Tahu! An-Nahl 43: Kenapa Allah Wajibkan Kita Konsultasi ke Ahlinya

    Berhenti Sok Tahu! An-Nahl 43: Kenapa Allah Wajibkan Kita Konsultasi ke Ahlinya

    Dalam era banjir informasi seperti sekarang, kita sering tergoda untuk menjadi ‘self-proclaimed expert’. Hanya dengan modal keyword di search engine, kita merasa sudah menguasai segala ilmu, termasuk ilmu agama. Padahal, jauh sebelum era internet, Al-Qur’an sudah memberikan warning keras tentang bahaya self-diagnosis spiritual.

    Peringatan itu tertuang dalam Surah An-Nahl ayat 43, yang mengandung perintah fundamental dalam mencari ilmu:

    $$فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ$$

    “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan (Ahludz-Dzikr) jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

    Ayat ini bukan sekadar saran, tapi perintah wajib yang memiliki implikasi besar dalam hidup seorang Muslim.

    1. Warning Ilahi: Jangan Ambil Ilmu dari Random Source

    Ayat ini menampar anggapan bahwa kita bisa mendapatkan semua jawaban agama secara instan tanpa bimbingan. Allah SWT memerintahkan kita untuk merujuk kepada “Ahludz-Dzikr” (Ahli Ilmu atau Orang yang Mempunyai Pengetahuan).

    Dalam konteks syariat, Ahludz-Dzikr merujuk pada para ulama, ustadz, guru, atau siapapun yang memiliki kompetensi, kredibilitas, dan sanad ilmu yang jelas dalam memahami Al-Qur’an dan Sunnah.

    Intinya: Mencari ilmu tidak boleh asal scroll atau copy-paste. Anda harus memastikan sumbernya valid.

    2. Kenapa Self-Diagnosis Spiritual Itu Berbahaya?

    Ketika seseorang mencoba menafsirkan ayat Al-Qur’an atau hadis tanpa bekal ilmu dasar (seperti tafsir, hadis, ushul fiqh, dan bahasa Arab), hasilnya fatal:

    • Penyimpangan Makna: Ayat yang lurus bisa ditafsirkan bengkok sesuai hawa nafsu atau pemahaman yang dangkal.
    • Kecenderungan Ghuluw (Ekstrem): Tanpa bimbingan guru, seseorang bisa terjebak pada sikap ekstrem (terlalu keras atau terlalu longgar) dalam beragama.
    • Merusak Akidah: Menciptakan kebingungan yang dapat merusak akidah diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.

    Oleh karena itu, perintah Fas’alū Ahladz-Dzikr adalah mekanisme pertahanan diri dari kesesatan.

    3. Solusi Gen Z: Mencari Mentor, Bukan Hanya Konten

    Ayat An-Nahl 43 mengajarkan bahwa dalam Islam, ilmu itu didapatkan melalui transmisi, bukan hanya informasi.

    • Pilih Mentor, Bukan Influencer: Cari guru yang memiliki sanad ilmu jelas (Ahludz-Dzikr), yang bisa membimbing Anda dari nol hingga memahami kompleksitas hukum.
    • Jadikan Guru Filter Utama: Gunakan ilmu yang Anda dapat dari internet dan media sosial sebagai bahan bacaan, namun biarkan guru atau ulama Anda menjadi filter dan penjelas utama.
    • Bertanya Itu Kewajiban: Jangan takut dicap bodoh. Justru, menunjukkan ketidaktahuan dan bertanya adalah perintah Al-Qur’an dan tanda seorang penuntut ilmu sejati.

    Surah An-Nahl ayat 43 adalah guideline abadi bagi setiap Muslim. Di tengah riuh rendahnya informasi digital, ingatlah: Jalan menuju kebenaran itu terjal dan membutuhkan pemandu. Jangan pernah malu bertanya, karena bertanya kepada Ahludz-Dzikr adalah salah satu ibadah yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT.