#KawanAksi, di era media sosial seperti sekarang, garis antara “menebar inspirasi” dan “pamer kebaikan” sering kali terasa sangat tipis. Kita sering melihat video orang berbagi makanan atau renovasi rumah warga yang dikemas secara estetik.
Di satu sisi, ada anjuran untuk menyembunyikan amal agar lebih ikhlas. Namun di sisi lain, konten kebaikan bisa menjadi pemantik bagi orang lain untuk ikut bergerak. Bagaimana Islam memandang hal ini dan di mana titik temunya? Mari kita pelajari secara edukatif.
1. Keutamaan Sedekah Sembunyi-Sembunyi
Islam sangat memuliakan sedekah yang dilakukan secara rahasia. Tujuannya jelas: menjaga hati dari penyakit riya (ingin dipuji) dan menjaga harga diri penerima bantuan. Rasulullah ﷺ bersabda tentang salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat:
“Seseorang yang bersedekah kemudian ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Sedekah sembunyi-sembunyi adalah “obat” terbaik untuk melatih keikhlasan murni antara hamba dan Sang Pencipta.
2. Bolehkah Sedekah Terang-Terangan (Konten)?
Ternyata, Al-Quran tidak melarang sedekah yang dilakukan secara terbuka. Allah SWT berfirman:
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 271).
Ayat ini memberikan edukasi bahwa kedua cara tersebut memiliki ruangnya masing-masing. Sedekah terang-terangan menjadi baik jika tujuannya adalah edukasi, transparansi publik (bagi lembaga), atau mengajak orang lain berbuat serupa.
3. Mencari Titik Temu: Syarat Konten Kebaikan
Agar konten kebaikan tidak terjatuh pada kesia-siaan, ada beberapa “rambu-rambu” yang perlu diperhatikan:
- Audit Niat secara Berkala: Sebelum menekan tombol upload, tanyakan pada hati: “Apakah saya ingin dilihat sebagai orang baik, atau saya ingin orang lain ikut berbuat baik?”
- Menjaga Adab Terhadap Penerima: Pastikan orang yang dibantu merasa nyaman dan tidak merasa terhina karena wajahnya dieksploitasi demi engagement. Menutup wajah penerima atau meminta izin adalah bentuk adab yang tinggi.
- Fokus pada Pesan, Bukan Pelaku: Konten yang baik adalah konten yang membuat penonton berkata “MasyaAllah, saya ingin ikut berbagi,” bukan “MasyaAllah, orang ini baik sekali.”
Keikhlasan adalah Urusan Hati
Penting bagi kita untuk tidak mudah menghakimi orang yang membuat konten kebaikan sebagai orang yang riya. Sebaliknya, orang yang bersedekah sembunyi-sembunyi pun tidak boleh merasa lebih suci.
Titik temunya adalah Keseimbangan. Kita bisa bersedekah secara rahasia untuk konsumsi pribadi dengan Allah, dan sesekali menampakkannya (lewat konten atau cerita) untuk memotivasi lingkungan sekitar agar virus kebaikan terus menyebar.
Inspirasi yang Membawa Manfaat
#KawanAksi, pada akhirnya, niat adalah ruh dari setiap amal. Baik tersembunyi maupun tampak, pastikan tujuan akhirnya adalah meringankan beban sesama dan meraih ridha-Nya. Konten yang didasari ketulusan akan sampai ke hati, sementara yang didasari pencitraan hanya akan sampai ke mata.
Mari tebarkan inspirasi nyata dengan berbagi kepada mereka yang membutuhkan hari ini: 👉 Wujud Aksi Nyata – Sedekah Inspirasi Kebaikan
