Kita mungkin pernah melihat seorang teman atau anggota keluarga yang dengan asyiknya makan atau minum di siang hari saat Ramadan, lalu tiba-tiba ia tersentak sadar bahwa ia sedang berpuasa. Atau mungkin, #KawanAksi sendiri yang mengalaminya?
Fenomena “lupa” ini adalah hal yang manusiawi. Namun, agar tidak muncul keraguan dan tetap terjaga keharmonisan dalam berinteraksi, penting bagi kita untuk mengetahui hukum syariat dan adab dalam menegur orang yang lupa tersebut.
1. Hukum Puasanya Orang yang Lupa
Kabar baik bagi siapa pun yang benar-benar lupa: Puasanya tetap sah dan tidak batal. Berdasarkan Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, maka hendaklah ia menyempurnakan puasanya, karena sesungguhnya Allah telah memberinya makan dan minum.” Mengacu pada penjelasan dalam Kitab Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, hal ini dikategorikan sebagai rezeki dari Allah. Tidak ada kewajiban bagi orang tersebut untuk meng-qadha (mengganti) puasanya atau membayar denda (kafarat), asalkan ia segera berhenti makan atau minum begitu ia ingat.
2. Adab Menegur Orang yang Lupa
Jika #KawanAksi melihat orang lain sedang makan atau minum karena lupa, apa yang harus dilakukan? Dalam literatur fikih, ada adab yang perlu diperhatikan:
- Segera Mengingatkan: Secara hukum, orang yang melihat wajib mengingatkan. Mengutip dari Kitab Fathul Mu’in, mengingatkan orang yang lupa adalah bagian dari amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran).
- Menegur dengan Lembut: Jangan berteriak atau menghakimi. Cukup dekati dan bisikkan dengan ramah, “Maaf, sepertinya kamu sedang puasa, ya?”. Menegur dengan keras di depan umum bisa membuat orang tersebut merasa malu (tasyhir), yang justru dilarang dalam adab bermuamalah.
- Jangan Menunggu Habis: Jangan sengaja membiarkan teman Kamu menghabiskan satu piring baru diingatkan. Segera ingatkan begitu Kamu melihatnya agar ia tidak terus-menerus melakukan hal yang dilarang dalam puasa.
3. Apa yang Harus Dilakukan si Pelupa?
Begitu tersadar atau diingatkan, orang tersebut harus segera mengeluarkan makanan yang masih ada di dalam mulutnya. Jika ia sengaja menelan makanan yang tersisa setelah sadar, maka saat itulah puasanya dianggap batal.
Berbagi Rezeki di Bulan Suci
Jika Allah memberikan “rezeki” berupa lupa kepada sebagian orang, mari kita secara sadar memberikan rezeki bagi mereka yang benar-benar membutuhkan. Masih banyak saudara kita yang jangankan lupa makan, untuk mencari sesuap nasi saat berbuka saja mereka harus berjuang keras.
Sempurnakan ibadah Ramadan #KawanAksi dengan membantu paket pangan untuk yatim dan dhuafa melalui Wujud Aksi Nyata. Mari kita pastikan mereka tidak kelaparan di bulan yang mulia ini.
Klik untuk berbagi kebaikan: 👉 Sedekah Pangan Ramadan – Wujud Aksi Nyata
Antara Rahmat dan Kewajiban
Lupa adalah rahmat, namun mengingatkan adalah kewajiban. Dengan saling menjaga dalam kebaikan dan tutur kata yang santun, suasana Ramadan akan terasa lebih indah dan penuh persaudaraan.
