Di sebagian kalangan masyarakat, masih ada sisa-sisa kepercayaan kuno bahwa bulan Syawal adalah bulan yang tidak baik untuk melaksanakan pernikahan. Namun, tahukah #KawanAksi bahwa Siti Aisyah RA justru sangat menganjurkan pernikahan di bulan ini?
Beliau menggunakan pengalaman hidupnya sendiri untuk membuktikan bahwa keberkahan rumah tangga tidak ditentukan oleh mitos, melainkan oleh ketakwaan kepada Allah SWT.
1. Mitos “Bulan Sial” di Zaman Jahiliyah
Pada zaman Jahiliyah, orang-orang Arab menganggap bulan Syawal sebagai bulan kesialan (thiyarah). Kata “Syawal” diambil dari kata Syaala yang berarti “mengangkat” atau “kosong”. Mereka percaya bahwa unta betina yang mengangkat ekornya di bulan ini enggan untuk dikawini, sehingga mereka meyakini pernikahan di bulan Syawal akan berakhir dengan kegagalan atau kesialan.
2. Jawaban Tegas Siti Aisyah RA
Siti Aisyah RA ingin menghapus tuntas takhayul tersebut. Dalam sebuah riwayat yang sangat masyhur, beliau berkata:
“Rasulullah SAW menikahiku pada bulan Syawal dan mulai mencampuriku (sebagai suami istri) juga pada bulan Syawal. Maka siapakah di antara istri-istri beliau yang lebih beruntung dan lebih mendapatkan cinta di hati beliau selain aku?” (HR. Muslim No. 1423 & Tirmidzi No. 1093).
Siti Aisyah RA menantang logika mitos tersebut dengan menunjukkan fakta bahwa rumah tangga beliau dengan Nabi justru sangat bahagia, penuh cinta, dan diberkahi, meskipun dimulai pada bulan Syawal.
3. Sunnah bagi Para Sahabat
Berdasarkan riwayat tersebut, para ulama—termasuk Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim—menjelaskan bahwa hukum menikah, menikahkan, atau berhubungan suami istri di bulan Syawal adalah sunnah (dianjurkan). Hal ini bertujuan untuk secara simbolis menentang keyakinan jahiliyah yang masih melekat tentang adanya “waktu sial”.
4. Pelajaran Tauhid bagi Kita
Islam mengajarkan bahwa semua waktu adalah milik Allah dan pada dasarnya adalah baik. Percaya pada hari atau bulan sial termasuk dalam kategori thiyarah yang dilarang. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Thiyarah (beranggapan sial) itu adalah syirik.” (HR. Abu Dawud).
- Hikmahnya: Menikah di bulan Syawal adalah bentuk ketaatan dan pemurnian tauhid, bahwa hanya Allah yang menentukan takdir, bukan bulan atau tanggal tertentu.
Rayakan Kebahagiaan dengan Berbagi
Momen pernikahan atau memulai hidup baru di bulan Syawal adalah saat yang tepat untuk mensyukuri nikmat Allah. Salah satu cara terbaik mengekalkan keberkahan dalam keluarga adalah dengan rajin bersedekah.
Mari #KawanAksi, alirkan keberkahan untuk rumah tangga Kamu dengan membantu mereka yang membutuhkan melalui Wujud Aksi Nyata: 👉 Sedekah Berkah Syawal – Wujud Aksi Nyata
Syawal Adalah Bulan Kemenangan
Siti Aisyah RA telah membuktikan bahwa bulan Syawal adalah bulan yang penuh cinta dan kasih sayang. Jangan biarkan mitos menghambat niat ibadah Kamu untuk menyempurnakan separuh agama.