Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah memudahkan langkah kebaikan ini. Di tengah kehidupan yang serba sederhana, Abah Pepen masih mampu menunjukkan ketegaran dan senyum yang tulus. Meski usianya sudah lanjut, semangat beliau untuk bertahan dan berikhtiar tidak pernah padam.
Melalui program kebaikan #kawanaksi, Wujud Aksi Nyata kembali menyalurkan bantuan sembako kepada Abah Pepen. Dalam paket tersebut berisi kebutuhan pokok seperti beras, telur, minyak goreng, mie instan, susu, hingga perlengkapan rumah tangga lainnya yang diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan harian.
Saat bantuan diserahkan, Abah Pepen menyambut dengan rasa haru dan ucapan syukur. Senyum bahagia yang terukir di wajahnya menjadi pengingat bahwa kebaikan, sekecil apa pun, bisa membawa arti besar bagi mereka yang membutuhkan.
Semoga bantuan ini menjadi berkah bagi Abah Pepen, serta menjadi ladang pahala bagi seluruh #KawanAksi dan para donatur yang telah berkontribusi dalam aksi nyata ini. Mari terus menebar kebaikan, karena setiap sedekah yang kita berikan tak akan pernah sia-sia di sisi Allah.
Setiap orang ingin rezekinya lancar dan penuh keberkahan. Namun banyak yang lupa bahwa kunci utama datangnya rezeki bukan hanya kerja keras, melainkan juga hubungan yang baik dengan Sang Pemberi Rezeki.
Salah satu rahasia doa pembuka rezeki terletak pada keikhlasan hati. Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk berdoa dengan penuh keyakinan, seperti dalam doa:
اللَّهُمَّ ارْزُقْنِي رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا وَاسِعًا مِنْ غَيْرِ تَعَبٍ وَلَا مَشَقَّةٍ وَلَا ضَيْرٍ “Ya Allah, berilah aku rezeki yang halal, baik, dan luas tanpa susah payah, tanpa kesulitan, dan tanpa bahaya.”
Doa ini sederhana tapi bermakna dalam — bukan hanya meminta harta, tetapi memohon agar cara mendapatkannya penuh keberkahan dan ketenangan.
Selain doa, amalan-amalan kecil juga bisa menjadi pembuka pintu rezeki, seperti:
Membiasakan istighfar, karena Allah menjanjikan hujan rahmat dan rezeki berlimpah bagi yang memperbanyak istighfar (QS. Nuh: 10–12).
Salat dhuha, waktu di mana langit sedang terbuka luas untuk dikabulkannya doa.
Bersedekah, sebab sedekah tidak mengurangi harta, tapi justru melipatgandakan.
Berbuat baik kepada orang tua, karena doa restu mereka menjadi jalan datangnya keberkahan.
Rezeki tak selalu soal uang atau harta. Kadang, bentuk rezeki adalah tubuh yang sehat, keluarga yang harmonis, atau hati yang tenang. Dan semuanya bermula dari doa yang tulus — doa yang bukan sekadar diucapkan di bibir, tapi lahir dari hati yang yakin bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki.
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa: 29)
Ayat ini adalah peringatan sekaligus kasih sayang dari Allah kepada setiap jiwa yang sedang berada di ujung lelah. Dalam Islam, jiwa manusia adalah sesuatu yang suci dan berharga. Maka tidak ada satu pun alasan bagi seorang mukmin untuk membenci hidupnya sendiri, karena setiap detik kehidupan adalah ladang pahala yang Allah berikan.
Banyak orang mungkin merasa hidupnya tidak adil — rezeki sempit, doa belum terkabul, dan ujian datang silih berganti. Namun justru di saat itulah Allah paling dekat dengan hamba-Nya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Keputusasaan bukanlah jalan keluar, karena ia hanya menutup mata dari rahmat Allah yang luas. Rasulullah ﷺ mengingatkan, bahwa siapa pun yang bersabar, Allah akan selalu bersamanya. Bahkan sekecil apa pun perjuangan untuk bertahan — menahan tangis, menundukkan amarah, atau tetap berdoa di tengah kecewa — semua itu bernilai besar di sisi Allah.
Maka jagalah hidupmu. Jangan biarkan rasa lelah menghancurkan amanah yang telah Allah titipkan. Ingatlah, hidupmu tidak sia-sia. Selama engkau masih bernafas dan berusaha mendekat kepada Allah, berarti masih ada harapan dan cinta-Nya yang menyelimuti.
Hidup bukan untuk disesali, tapi untuk dijalani dengan sabar dan doa. Karena Allah tak pernah meninggalkan hamba yang percaya pada kasih-Nya.
Feodalisme bukan sekadar istilah sejarah, tapi juga gambaran tentang bagaimana kekuasaan bisa membuat manusia lupa akan kesetaraan. Istilah ini berasal dari kata feodum yang berarti “tanah pemberian”, dan menggambarkan sistem sosial yang pernah berkembang di Eropa pada Abad Pertengahan.
Dalam sistem feodal, tanah dan kekuasaan dipegang oleh bangsawan, sementara rakyat kecil bekerja dan hidup di bawah kendali mereka. Siapa yang punya tanah, dialah yang berkuasa. Rakyat tidak memiliki kebebasan penuh, bahkan hidup mereka bergantung pada belas kasihan para tuan tanah.
Namun feodalisme bukan terjadi di sejarah Eropa saja. Di banyak wilayah Asia, termasuk Indonesia zaman kerajaan, sistem serupa juga pernah terjadi. Rakyat harus tunduk dan patuh kepada raja, dan hubungan sosial ditentukan oleh darah dan jabatan, bukan kemampuan atau keadilan.
Kini, sistem feodal mungkin sudah berakhir, tapi mentalitas feodal masih sering hidup dalam bentuk lain. Seperti ketika seseorang merasa lebih tinggi karena jabatan, atau ketika kebenaran diukur dari siapa yang berbicara, bukan dari apa yang benar.
Feodalisme modern ini yang harus kita lawan — dengan sikap rendah hati, saling menghargai, dan menegakkan keadilan untuk semua. Karena sejatinya, di mata Allah, yang membedakan manusia hanyalah ketakwaannya.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Al-Qur’an Braille adalah versi mushaf Al-Qur’an yang ditulis dengan huruf Braille, yaitu sistem tulisan timbul yang dapat dibaca melalui sentuhan jari oleh penyandang tunanetra.
Tulisan Braille ini terdiri dari titik-titik kecil yang disusun dalam sel, dan setiap kombinasi titik mewakili huruf atau tanda tertentu. Dengan sistem ini, saudara-saudara muslim yang tidak bisa melihat tetap dapat membaca, menghafal, dan memahami Al-Qur’an seperti orang awas pada umumnya.
Sejarah Singkat Al-Qur’an Braille
Sistem Braille sendiri ditemukan oleh Louis Braille dari Prancis pada abad ke-19. Sedangkan penerapan sistem ini dalam mushaf Al-Qur’an mulai berkembang di berbagai negara Islam pada pertengahan abad ke-20, termasuk di Indonesia.
Di Indonesia, Al-Qur’an Braille pertama kali diterbitkan oleh Lembaga Penerbitan Al-Qur’an Braille (LPAQB) di bawah naungan Departemen Agama. Kini, mushaf Braille telah banyak digunakan di sekolah luar biasa, pesantren tunanetra, dan lembaga pendidikan Islam inklusif.
Ciri-Ciri Al-Qur’an Braille
Beberapa ciri khas dari Al-Qur’an Braille antara lain:
Menggunakan huruf Braille Arab (bukan Latin).
Tidak berharakat penuh, melainkan menggunakan sistem tanda khusus.
Ukuran fisiknya lebih tebal dan banyak jilid, karena titik Braille membutuhkan ruang lebih besar dibanding huruf biasa.
Terdiri dari 30 juz dalam beberapa jilid, biasanya 10 hingga 15 jilid untuk satu mushaf lengkap.
Fungsi dan Makna Kehadiran Al-Qur’an Braille
Al-Qur’an Braille bukan hanya media baca, tapi juga simbol keadilan dan kasih sayang Islam. Melalui mushaf ini, para penyandang tunanetra memiliki kesempatan yang sama untuk:
Menghafal Al-Qur’an (tahfidz).
Membaca tilawah harian.
Mengajarkan Al-Qur’an kepada sesama penyandang disabilitas.
Dengan kata lain, Al-Qur’an Braille adalah jembatan cahaya agar mereka tetap bisa “melihat” kebenaran dengan hati, meski mata mereka tak mampu melihat secara fisik.
Kehadiran Al-Qur’an Braille adalah bentuk nyata rahmat Allah yang meliputi seluruh hamba-Nya, tanpa terkecuali. Ia menjadi bukti bahwa tidak ada keterbatasan dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.
“Sesungguhnya Kami telah memudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)
Di tengah keterbatasan fisik dan kondisi ekonomi yang sulit, Pak Yusup tetap berusaha menjalani hidup dengan penuh kesabaran. Beliau kini tengah berjuang melawan penyakit tumor di area wajah, yang membuat aktivitas sehari-hari menjadi semakin berat.
Melihat kondisi beliau, Wujud Aksi Nyata bersama para #KawanAksi menyalurkan bantuan sembako dan kebutuhan pokok untuk meringankan beban hidup Pak Yusup. Penyaluran bantuan ini dilaksanakan langsung di kediaman beliau pada awal Oktober 2025.
Dalam kesehariannya, Pak Yusup hidup dengan penuh keterbatasan. Namun di balik tubuh yang lemah, semangat beliau untuk terus bertahan begitu kuat. Dengan suara lirih, Pak Yusup menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua donatur yang telah peduli.
“Terima kasih banyak untuk semua yang sudah membantu. Semoga Allah membalas dengan kebaikan dan rezeki yang melimpah.”
Bantuan ini menjadi bentuk kepedulian nyata bagi sesama yang sedang berjuang. Melalui uluran tangan dari #KawanAksi, harapan dan semangat baru terus mengalir bagi mereka yang membutuhkan.
Mari terus bersama Wujud Aksi Nyata dalam menebar kebaikan dan membantu mereka yang tengah diuji. Karena sekecil apa pun sedekah yang kita berikan, bisa menjadi cahaya bagi hidup orang lain. 🌿
Perkembangan zaman membawa banyak bentuk harta baru — seperti saham, deposito, hingga aset digital. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah bentuk harta modern ini juga wajib dizakati seperti emas dan uang tunai?
Dalam Islam, zakat tidak terbatas pada bentuk harta tertentu, tapi mencakup segala harta yang bernilai, dimiliki penuh, dan bisa berkembang. Maka, mari kita bahas satu per satu menurut pandangan ulama dan lembaga zakat kontemporer.
1. Zakat Saham
Saham termasuk dalam kategori zakat mal (zakat harta) karena memiliki nilai, dapat diperjualbelikan, dan menghasilkan keuntungan.
Hukum: Wajib dizakati jika memenuhi syarat berikut:
Telah dimiliki selama 1 tahun (haul)
Mencapai nisab setara 85 gram emas
Bernilai dan bisa diperjualbelikan
Cara Menghitung:
Jika saham dimiliki untuk jual beli (trading) → zakatnya seperti zakat perdagangan, yaitu 2.5% dari total nilai pasar saham + saldo kas.
Jika saham untuk investasi jangka panjang (dividen) → zakat diambil dari hasil dividen bersih, sebesar 2.5% bila mencapai nisab.
2. Zakat Deposito
Deposito adalah harta simpanan yang berkembang karena menghasilkan bunga atau bagi hasil. Oleh karena itu, hukumnya sama seperti zakat tabungan.
Hukum: Wajib dizakati jika:
Sudah dimiliki selama 1 tahun
Nilainya setara atau lebih dari 85 gram emas
Cara Menghitung: Zakat = 2.5% dari total saldo akhir + bagi hasil (jika ada) Termasuk bagi hasil yang belum diambil dari bank.
3. Zakat Aset Digital (Crypto, NFT, dan Sejenisnya)
Seiring kemajuan teknologi, aset digital seperti Bitcoin, Ethereum, dan NFT kini memiliki nilai ekonomi nyata.
Hukum: Wajib dizakati, menurut pandangan banyak ulama dan lembaga keuangan syariah, seperti Dewan Syariah Nasional MUI dan AAOIFI, karena aset ini memiliki nilai, bisa diperjualbelikan, dan menjadi alat investasi.
Cara Menghitung:
Konversi nilai aset digital ke rupiah
Jika total nilainya mencapai nisab 85 gram emas dan dimiliki selama 1 tahun, maka keluarkan zakat sebesar 2.5% dari nilai pasar saat haul.
Tabel Ringkas
Jenis Aset
Wajib Zakat
Nisab
Tarif Zakat
Dasar Perhitungan
Saham
Ya
85 gr emas
2.5%
Nilai pasar/dividen
Deposito
Ya
85 gr emas
2.5%
Saldo + bagi hasil
Aset Digital (Crypto, NFT)
Ya
85 gr emas
2.5%
Nilai pasar saat haul
Kesimpulan
Islam adalah agama yang fleksibel dan relevan di setiap zaman. Prinsip zakat tidak berubah: setiap harta yang berkembang dan bernilai wajib dizakati apabila memenuhi syaratnya.
Menunaikan zakat dari saham, deposito, maupun aset digital bukan sekadar kewajiban, tapi juga cara membersihkan harta dari ketamakan, serta mengalirkan keberkahan kepada sesama.
Mari jadikan setiap bentuk rezeki yang kita miliki sebagai jalan kebaikan. Dengan menunaikan zakat secara rutin — baik dari harta konvensional maupun digital — insyaAllah harta menjadi lebih bersih, hati lebih tenang, dan keberkahan hidup semakin meluas.
Tim relawan Wujud Aksi Nyata kembali menyalurkan bantuan sembako kepada salah satu penerima manfaat, yaitu Abah Deden, seorang lansia yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Abah Deden tinggal di rumah sederhana dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Di usianya yang sudah lanjut, ia berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari meski tubuhnya mulai renta dan tak sekuat dulu.
Melihat kondisi tersebut, tim relawan mendatangi kediaman Abah Deden untuk menyalurkan berbagai kebutuhan pokok seperti beras, minyak, mie instan, sabun, dan kebutuhan sehari-hari lainnya.
Bantuan ini merupakan bentuk nyata dari kebaikan para #KawanAksi yang telah berbagi sebagian rezekinya untuk membantu sesama yang membutuhkan. Harapannya, bantuan sembako ini dapat meringankan beban hidup Abah Deden dan menjadi penyemangat untuk tetap tegar menjalani hari-hari.
Setiap kebaikan yang disalurkan, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi mereka yang sedang berjuang dalam kesulitan. Mari terus berbuat nyata bersama Wujud Aksi Nyata, agar semakin banyak senyum yang bisa kita hadirkan.
Sedekah pada dasarnya tak sekedar amalan yang utama. Didalamnya terkandung makna luar biasa tentang wujud rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Bukan tanpa alasan, pasalnya hanya orang-orang yang dirahmati Allah saja yang akan terbuka luas hati dan pikirannya untuk dapat senantiasa berbagi kepada sesama. Diantara banyak cara yang bisa kita lakukan untuk bersedekah, berbagi makanan terbilang sebagai amalan yang paling istimewa terutama di bulan Syawal ini. Bagaimana tidak? Sedekah makanan dapat menjadi pelengkap dari ibadah puasa sunnah yang biasanya dilaksanakan selama enam hari lamanya.
Hal ini sebagaimana diketahui dalam suatu hadits bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR Tirmidzi)
Kepada para sahabat dan umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa terdapat keutamaan yang bisa kita peroleh dari amalan berbagi makanan. Terutama ketika hal ini dilakukan pada orang-orang yang berpuasa, tentu saja pahalanya semakin besar dan luar biasa. Rasulullah mengatakan bahwa kebaikan berbagi makanan pada mereka yang berpuasa pahalanya sama seperti orang yang melaksanakan puasa tersebut. Pahala ini bahkan tidak sama sekali mengurangi pahala dari orang yang melaksanakan puasa. Kebaikannya pun bertambah tatkala kita juga menjalankan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Kebaikan ganda akan menjadi hak dari orang yang berpuasa sekaligus bersedekah. Selain memperoleh pahala puasa dari orang yang disedekahkan, kita juga berkesempatan mendapat pahala seperti berpuasa selama satu tahun. Tentu saja, hal ini tidak bisa kita lewatkan begitu saja. Sangat penting bagi diri kita untuk bisa memanfaatkan kesempatan emas yang hanya datang satu tahun sekali ini. Semoga dengan senantiasa menjaga ketakwaan dan keimanan di bulan Syawal, kita juga bisa dapat istiqomah dalam setiap upaya menunaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala baik yang wajib ataupun yang sunnah.
Sedekah pada dasarnya tak sekedar amalan yang utama. Didalamnya terkandung makna luar biasa tentang wujud rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-Nya. Bukan tanpa alasan, pasalnya hanya orang-orang yang dirahmati Allah saja yang akan terbuka luas hati dan pikirannya untuk dapat senantiasa berbagi kepada sesama. Diantara banyak cara yang bisa kita lakukan untuk bersedekah, berbagi makanan terbilang sebagai amalan yang paling istimewa terutama di bulan Syawal ini. Bagaimana tidak? Sedekah makanan dapat menjadi pelengkap dari ibadah puasa sunnah yang biasanya dilaksanakan selama enam hari lamanya.
Hal ini sebagaimana diketahui dalam suatu hadits bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
“Barang siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut sedikit pun.” (HR Tirmidzi)
Kepada para sahabat dan umatnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan bahwa terdapat keutamaan yang bisa kita peroleh dari amalan berbagi makanan. Terutama ketika hal ini dilakukan pada orang-orang yang berpuasa, tentu saja pahalanya semakin besar dan luar biasa. Rasulullah mengatakan bahwa kebaikan berbagi makanan pada mereka yang berpuasa pahalanya sama seperti orang yang melaksanakan puasa tersebut. Pahala ini bahkan tidak sama sekali mengurangi pahala dari orang yang melaksanakan puasa. Kebaikannya pun bertambah tatkala kita juga menjalankan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Kebaikan ganda akan menjadi hak dari orang yang berpuasa sekaligus bersedekah. Selain memperoleh pahala puasa dari orang yang disedekahkan, kita juga berkesempatan mendapat pahala seperti berpuasa selama satu tahun. Tentu saja, hal ini tidak bisa kita lewatkan begitu saja. Sangat penting bagi diri kita untuk bisa memanfaatkan kesempatan emas yang hanya datang satu tahun sekali ini. Semoga dengan senantiasa menjaga ketakwaan dan keimanan di bulan Syawal, kita juga bisa dapat istiqomah dalam setiap upaya menunaikan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala baik yang wajib ataupun yang sunnah.