Menu Sahur Rasulullah: Mengintip Kesederhanaan Meja Makan Rasulullah ﷺ yang Penuh Berkah

Saat menyambut bulan suci, seringkali kita disibukkan dengan daftar menu sahur yang mau dibuat. Kita khawatir jika tidak makan banyak, tubuh akan lemas saat berpuasa. Namun, tahukah kamu bagaimana rupa meja makan manusia paling mulia, Rasulullah ﷺ, saat waktu sahur tiba?

Bukan hidangan berpiring-piring, meja makan Rasulullah ﷺ justru menjadi simbol kesederhanaan yang luar biasa. Meski sangat sederhana, menu beliau mengandung keberkahan yang mampu memberikan energi besar untuk beribadah sepanjang hari.

Menu Utama Sahur Sang Baginda

Berdasarkan riwayat-riwayat yang valid, menu sahur Rasulullah ﷺ biasanya hanya terdiri dari dua unsur utama:

1. Kurma (Tamr)

Rasulullah ﷺ sangat memuji kurma sebagai hidangan sahur. Beliau bersabda:

“Sebaik-baik hidangan sahur seorang mukmin adalah kurma.” > (HR. Abu Dawud no. 2345, Ibnu Hibban, dan Baihaqi. Dishahihkan oleh Al-Albani).

Secara medis, kurma kaya akan glukosa dan serat yang memberikan energi instan serta rasa kenyang lebih lama. Bagi Rasulullah, kurma bukan sekadar pengganjal perut, tapi sunnah yang membawa keberkahan.

2. Air Putih

Jika tidak ada makanan lain, Rasulullah ﷺ tetap bersahur meskipun hanya dengan seteguk air. Beliau bersabda:

“Bersahurlah kalian meski hanya dengan seteguk air.” > (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban. Dihasankan oleh para ulama karena banyaknya jalur periwayatan).

Beliau juga pernah bersabda bahwa Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang bersahur. Ini menunjukkan bahwa nilai sahur bukan pada jumlah makanannya, tapi pada ketaatan menjalankan sunnahnya.


Pelajaran di Balik Kesederhanaan

#KawanAksi, dari menu sahur Nabi ﷺ, kita bisa mengambil tiga pelajaran penting untuk persiapan Ramadhan 2026 nanti:

  1. Keberkahan Bukan pada Kuantitas: Sahur adalah waktu yang penuh berkah (Barakah). Berkah berarti bertambahnya kebaikan. Sedikit makanan yang dimakan dengan mengikuti sunnah jauh lebih baik daripada makan berlebihan yang justru membuat mengantuk saat shalat subuh.
  2. Mencegah Israf (Berlebih-lebihan): Rasulullah ﷺ mengajarkan kita untuk tidak diperbudak oleh perut. Ramadhan adalah momentum untuk melatih jiwa agar lebih zuhud dan peduli pada mereka yang terbiasa lapar.
  3. Fokus pada Ibadah, Bukan Masakan: Dengan menu yang praktis dan sehat, Rasulullah ﷺ memiliki lebih banyak waktu untuk beristighfar dan shalat malam di akhir waktu sahur, bukan sibuk di dapur.

Penutup: Menjemput Berkah dengan Kesederhanaan

Mari kita jadikan Ramadhan kali ini sebagai momen untuk meneladani kesederhanaan Rasulullah ﷺ. Cukupkan diri dengan yang halal dan thoyyib (baik), serta jangan lupakan esensi dari sahur itu sendiri yaitu membedakan puasa kita dengan kaum terdahulu.

#KawanAksi, mari berbagi kebahagiaan sahur bagi mereka yang membutuhkan. Pastikan saudara-saudara kita di pelosok juga bisa merasakan nikmatnya sahur yang layak. KLIK DISINI!

Postingan Lainnya

Organisasi filantropi profesional yang menyalurkan donasi dan menjalankan program sosial untuk pemberdayaan desa di Indonesia.

copyright @ 2025
Terms & Conditions | Hubungi kami